Thursday, October 10, 2019

Desain Logo Kota Malang

Logo Kota Malang
Kota Malang, ialah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan daerahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.

Wilayah cekungan Malang telah ada semenjak masa purbakala menjadi tempat pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai tempat pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan tempat pemukiman prasejarah.[3] Selanjutnya, aneka macam prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas pondasi kerikil bata, bekas kanal drainase, serta aneka macam gerabah ditemukan dari periode simpulan Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.[3][4]

Nama "Malang" hingga ketika ini masih diteliti asal-usulnya oleh para jago sejarah. Para jago sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh balasan yang sempurna atas asal-usul nama "Malang". Sampai ketika ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut.

Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, berdasarkan salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak bergotong-royong bangunan suci Malangkucecwara itu, para jago sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu ialah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang berjulukan Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan sebab ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang berjulukan Malang.

Pihak yang lain menduga bahwa letak bergotong-royong dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai ketika ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang berjulukan Malangsuka, yang oleh sebagian jago sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berantakan di daerah tersebut, ibarat Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari.

Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum sanggup dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang berjulukan Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan simpulan tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas ialah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari suara prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak semenjak masa 12 Masehi.

Nama Malangkucecwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kecurangan, kepalsuan, dan kebatilan; angkuca yang berarti menghancurkan atau membinasakan; dan Icwara yang berarti "Tuhan". Sehingga, Malangkucecwara berarti "Tuhan telah menghancurkan kebatilan".

Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melaksanakan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut berjulukan Malang.

Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para jago sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan sentra pemerintahan yang hingga ketika ini, sesudah 12 masa berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.

Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun sesudah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia lalu mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang hingga ketika ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh berjulukan Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang alhasil tiba menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 sesudah menerima perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.

Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang sesudah hadirnya manajemen kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa supaya memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, contohnya ''Ijen Boullevard'' dan tempat sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan akomodasi yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu kini menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.

Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah "Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat goresan pena ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut bermetamorfosis : “Malangkucecwara”. Semboyan gres ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, sebab kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 masa yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau akrab candi yang berjulukan Malangkucecwara.

Kota malang mulai tumbuh dan berkembang sesudah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melaksanakan aneka macam kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, ibarat dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

    Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
    Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
    Tahun 1824 Malang memiliki Asisten Residen
    Tahun 1882 rumah-rumah di belahan barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
    1 April 1914 Malang di menetapkan sebagai Kotapraja
    8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
    21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
    22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
    2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
    1 Januari 2001, menjadi pemkot Malang.

Makna Lambang

DPRDGR mengkukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan Perda No. 4/1970. Bunyi semboyan pada lambang ialah "MALANG KUCECWARA"

    Motto "MALANG KUCECWARA" berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar
    Arti Warna :
        Merah Putih, ialah lambang bendera nasional Indonesia
        Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran
        Hijau ialah kesuburan
        Biru Muda berarti kesetiaan pada Tuhan, negara dan bangsa
        Segilima berbentuk perisai bermakna semangat usaha kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Semboyan tersebut digunakan semenjak hari peringatan 50 tahun berdirinya KOTAPRAJA MALANG 1964, sebelum itu yang digunakan ialah : "MALANG NAMAKU, MAJU TUJUANKU", yang merupakan terjemahan dari "MALANG NOMINOR, SURSUM MOVEOR"

Yang disahkan dengan "Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027". Semboyan gres itu diusulkan oleh Prof.DR. R.Ng.Poerbatjaraka, dan erat hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada zaman Ken Arok.
dikutip dari Wikipedia

0 comments:

Post a Comment

 

Resources

Travel

Labels